
Blogger, writer-wanna-be, banknote dealer, football lover (proudly saying that I am Liverpudlian!), lucky husband of a wonderful woman, and happy father of 2 cute babies. Living happily with his little family in Pemalang, Central Java, ID. Please visit www.bungeko.com, or follow me @bungeko. Thanks...
Dibaca: 91
Komentar: 0
Nihil
SETELAH menuai kritik keras pascakekalahan beruntun dari Yordania, Iran, dan Bahrain, plus isu keretakan timnas, Wim Rijsbergen kembali memberikan citra positif. Hasil imbang 0-0 dalam laga ujicoba melawan Arab Saudi di Malaysia, Jumat lalu, membuat kepercayaan fans timnas padanya kembali membesar.
Imbang melawan salah satu tim raksasa Asia jelas merupakan hasil bagus. Meski masih juga mandul—total sudah 4 laga beruntun timnas tak mampu mencetak gol, toh, permainan Bambang Pamungkas, cs. sudah lebih baik. Setidaknya kedisiplinan dan sikap ngotot seperti ditunjukkan pada Piala AFF lalu nampak kembali.
Satu hal menggembirakan lain, Wim mulai berani menurunkan muka-muka baru demi memperbaiki performa timnas. Wahyu Wiji Astanto, Purwaka Yudha, Ferdinand Sinaga, dan yang paling menyita perhatian adalah kiper I Made Wirawan. Berkat Made-lah skor akhir bisa imbang 0-0. Gelar man of the match pantas disematkan padanya.
Kalahkan Qatar
Timnas Qatar, wajib dikalahkan demi meraih 6 poin.
Tapi Wim tak boleh senang dulu. Ujian sebenarnya adalah laga melawan Qatar di Jakarta, Selasa (11/10) besok. Setelah kekalahan dari Bahrain, publik Indonesia tak mau timnas kembali menanggung malu di rumah sendiri. Seri saja tidak cukup, Indonesia wajib mengalahkan Qatar!
Alasan untuk menang atas Qatar semakin kuat karena inilah yang menentukan langkah Indonesia di Prakualifikasi Piala Dunia 2014. Dengan poin 0 dari dua laga awal, tak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali mengalahkan Qatar jika ingin terus memelihara peluang lolos ke babak selanjutnya.
Masih realistiskah harapan itu? Secara matematis peluang Indonesia lolos ke babak keempat masih terbuka, meski harus diakui probabilitasnya kecil. Setidaknya kita boleh berharap timnas menempati posisi runner up Grup E. Untuk itu Wim harus mampu membawa anak asuhannya mengantongi minimal 7 poin dari maksimal 12 poin yang tersedia.
Indonesia mempunyai empat laga tersisa, dua diantaranya di kandang. Laga kandang melawan Iran terbilang berat untuk mendulang poin penuh, tapi jika timnas tampil seperti babak pertama saat tandang ke Teheran Agustus lalu, satu poin mungkin bisa didapat.
Amankan Kunci
Peluang terbesar yang wajib dimaksimalkan adalah melawan Qatar. Baik saat kandang maupun tandang Indonesia dituntut meraih poin penuh. Jika mampu mengantongi 6 poin dari Qatar, tugas mencari poin tambahan dari Iran (kandang) dan Bahrain (tandang) boleh dibilang bakal lebih ringan.
Karena dua laga melawan Qatar digelar berurutan, di Jakarta dulu dan kemudian di Doha, maka laga kandang Selasa besok merupakan kunci yang sangat menentukan nasib Indonesia di PPD 2014. Jika tak mampu menundukkan Qatar di Jakarta, kunci tersebut berbalik menjadi milik Qatar. Hasil seri sekalipun sudah cukup untuk menutup pintu peluang Indonesia.
Melihat penampilan timnas melawan Arab Saudi, harapan mengalahkan Qatar di rumah sendiri boleh diapungkan tinggi-tinggi. Lini belakang sudah semakin rapi, apalagi ada sosok I Made Wirawan di bawah mistar. Lini tengah juga sudah semakin oke, meski masih belum sebaik di Piala AFF.
Satu-satunya problem adalah lini depan yang masih juga mandul. Untungnya lawan yang dihadapi Arab Saudi, sehingga kemandulan tersebut bukan melulu karena penyerang timnas tak tampil baik. Toh, Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales beberapa kali membahayakan pertahanan lawan. Ingat juga, saat itu tak ada Boaz Solossa. Kelincahan dan kecepatan Boci bisa jadi kartu as saat melawan Qatar.
Menang dua kali atas Qatar, seri melawan Iran dan atau Bahrain, lalu bertengger sebagai runner up grup dengan poin 7 atau 8, bukannya ini cuma impian di siang bolong?
Segala sesuatu yang kita gunakan saat ini berawal dari impian, dari angan-angan. Jadi, rasanya tidak ada yang tidak mungkin. Tinggal bagaimana kita bekerja keras mewujudkan impian tersebut menjadi kenyataan.
Do or die, Indonesia!