Artikel

Bola

Kompas Memaafkan Nurdin Halid…


OPINI | 16 April 2011 | 04:44 Dibaca: 378   Komentar: 5   Nihil

Bacalah sebuah artikel di Kompas yang berjudul “Rekonsiliasi Tanpa Dendam“, yang ditulis oleh Anton Sanjoyo, Jurnalis Kompas.

“Sangat disayangkan tokoh-tokoh sepak bola yang mengaku reformis punya semangat balas dendam terhadap rezim Nurdin. Harus dimengerti, semangat normalisasi adalah rekonsiliasi. Sementara itu, sifat dasar dari rekonsiliasi adalah memaafkan.”

Semangat balas dendam, tulis beliau. Wow. Ini berbahaya.

Ada resiko disitu, sebuah kemungkinan akan terbentuknya opini yang tergiring dari frame yang terdapat dalam artikel tersebut, bahwa orang yang menuntut keadilan dan pengungkapan kebenaran tentang kebusukan PSSI bakal dicap sebagai “para pendendam”.

Saya sedikitnya paham maksud artikel tersebut, yang mempersoalkan keberatan pihak pro-Toisutta dan Panigoro terhadap pencoretan FIFA kepada dua kandidat ketua umum PSSI itu. Agum Gumelar dikabarkan merencanakan akan terbang ke Zurich, Swiss, Markas FIFA, untuk mempertanyakan kembali pencoretan empat kandidat—terutama Toisutta dan Panigoro. Hal ini diyakini sebagai buah dari desakan kelompok pro LPI.

Tapi Anton Sanjoyo membawa isu ini ke soal memaafkan rezim Nurdin. Anton Sanjoyo beserta jajaran Komite Independen untuk Rekonsiliasi Sepak Bola Nasional (Konsen), menyerukan soal rekonsiliasi PSSI.

“sifat dasar dari rekonsiliasi adalah memaafkan.” tulisnya, ”Rekonsiliasi itu memaafkan. Tidak boleh ada dendam. Kita memasuki era baru!” begitu ujarnya, mengutip Nelson Mandela, untuk menutup artikel tersebut.

Apakah keinginan untuk mengusut tuntas segala kecurangan yang pernah ada di tubuh PSSI dibawah rezim Nurdin Halid, termasuk dalam hal memendam dendam? Apakah memaafkan itu berarti mengesampingkan keadilan dan kebenaran? Wah, wah, semoga bukan demikian yang dimaksud oleh Anton Sanjoyo..

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: