
Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...
Dibaca: 1246
Komentar: 41
4 dari 6 Kompasianer menilai aktual
Di Melbourne Australia tanggal 29 November 1956, 55 tahun yang lalu menjadi kenangan bagi dunia sepakbola Indonesia dan seluruh masyarakat. Pertandingan perempat final Olimpiade XVI, Indonesia melawan Uni Soviet, berakhir 0-0. Bangsa bangga dan gembira, walaupun hanya seri.
kegembiraan hanya dua hari karena pada tanggal 1 Desember 1956, Saelan kiper terbaik PSSI tidak bisa menahan empat gol Uni Soviet, sedang Ramang Cs tidak bisa menembus gawang Lev Yashin, kiper legendaris Uni Soviet yang kemudian menjadi juara. Kegembiraan hilang tetapi sampai sekarang pertandingan itu tetap menjadi kebanggaan PSSI. Setiap pembicaraan tentang sepakbola pasti pertandingan itu diingat. Bayangkan kalau Indonesia menang waktu itu mungkin 100 tahun tetap dibicarakan dan dibanggakan.
Itulah bola. Bola memang dapat membangkitkan semangat dan harga diri bangsa, lihat tiga bulan yang lalu ketika kejuaraan AFC, karena beberapa kali menang, seluruh bangsa bersemangat. Sepakbola merupakan olahraga paling populer di dunia.
Mengapa kita menonton bola ?
Setidaknya kita melihat tiga hal di pertandingan sepakbola. Pertama semangat dan perjuangan untuk menang, kedua keindahan permainan dengan skill dan pemain yang bermain sportif, dan terakhir, ketegangan. Kalau tim seimbang, sehingga sulit ditebak hasilnya. Semua itu bisa kalau ada semangat dan sportifitas serta skill dari pemain dan tim.
Dengan media khususnya televisi, sepakbola sudah berkembang dari hobi, prestasi menjadi industri dengan menjual tiga hal tadi. Kalau saya ditanya di luar negeri tentang olahraga apa yang paling populer di Indonesia, sering saya bingung menjawabnya antara sepakbola dan bulutangkis. Untuk jumlah peminat, jelas sepakbola lebih banyak tetapi sulit berprestasi, tetapi yang bisa mendapat medali emas olimpiade dan kejuaraan adalah bulutangkis.
Mencari cara meningkatkan prestasi sepakbola Indonesia dewasa ini, sama sulitnya mencari solusi mengurangi korupsi. Begitu banyak rapat dan seminar, diskusi diadakan tetapi belum maju2.
Dari segi pemain, mestinya tidak sulit mencari dari ± 50 juta anak muda di negeri ini yang berumur 17 s/d 30 tahun. Pelatih telah didatangkan dari berbagai negara, dari Tony Poganic, yang menjadi pelopor sepakbola modern di Indonesia, termasuk membawa PSSI ke olimpiade, W. Coerver dan sekarang Alfred Niedl, disamping pelatih dalam negeri. Kalau alasan dana, disamping pemerintah hampir semua orang kaya atau perusahaan ternama di Indonesia tetap mendukung.
Tatkala Galatama digalakkan, dari Pardedetex di Medan, Probosoetedjo dengan Mercu Buana, Sigit dengan Arseto, Astra dan Kramayuda, Bakrie dengan Pelita, Niac Mitra di Surabaya dan saya turut serta dengan Makassar Utama di Makassar dan banyak lagi, sekarang LSI dan LPI melibatkan Pemda-pemda yang APBD-nya besar dengan dukungan dua perusahaan ternama, Bakrie dan Medco.
Dari sisi Pemerintah atensi Presiden sangat tinggi. Menonton pertandingan untuk memberi dukungan dan DPR memberi perhatian sampai rapat khusus untuk PSSI. Kalau dulu saya sering ditanya bagaimana menjadi juara,saya juga kesulitan, karena tatkala memimpin PSM dan MU pada tahun 1980-1990, terasa betapa sulit menjadi juara. Disamping itu ada jawaban klasik; kita maju, cuma negara lain lebih maju lagi.
Disamping masalah-masalah umum, komentar yang masuk akal datang dari teman saya Bob McKerrow. Mantan ketua delegasi Palang Merah Internasional di Jakarta yang sekaligus pelatih atletik ini menyatakan kepada saya, Indonesia sulit maju dan menjadijuara, karena pemain sepakbola pada dasarnya adalah pelari yang berfikir dengan reaksi, sedang kota2 di Indonesia khususnya kota2 besar sudah sulit ditemukan anak-anak bermain sambil berlari karena kurangnya lapangan dan taman-taman. Jalan-jalan juga sangat padat dengan kendaraan. Adapun pelari harus dibina dari awal sehingga bakat berkembang.
Kemudian saya menghitung apa yang dilakukan selama 90 menit di lapangan dengan 22 pemain. Kalau dalam waktu 90 menit para pemain memainkan bola, secara rata-rata berarti tiap pemain menguasai bola empat menit, dikurangi satu menit bola dioper, berarti tiap pemain menguasai bola rata-rata hanya tiga menit saja. Apa yang dilakukan selama 87 menit adalah berlari sambil berpikir dan bereaksi ke mana bola. Tentu itu dibutuhkan kerjasama dan skill. Jadi pemain bola adalah remaja dan pemuda yang fisiknya kuat untuk berlari selama 90 menit, mempunyai intelegensia dan reaksi dan teknik yang baik dan mampu bekerjasama.
Karena di kota-kota sudah sulit mencari pelari remaja, maka talenta pemain harus dicari dan dilatih di daerah2 yang masih mempunyai tempat yang luas dan kebiasaan bermain. Pemain-pemain asing khususnya dari Afrika dan Amerika Latin yang bermain di Liga Indonesia, saya yakin juga berasal dari pedesaan yang sejak kecil bermain sambil berlari.
Tempat kedua yang mempunyai dasar berlari dan bereaksi adalah prajurit muda di asrama TNI, karena setiap hari prajurit biasanya berlari dan mempunyai reaksi baik dan semua asrama pasti ada lapangan bola.
Tentang semangat, waktu mengubah semangat dan motivasi. Kalau dulu zaman perserikatan semangat tim adalah semangat daerah, Ramang bangga dengan PSM, Witarsa bangga sebagai orang Persib, tidak pindah-pindah sampai pensiun, dengan harapan mendapat bonus dan bisa menjadi PNS, begitu pula bangga dengan nasionalisme Tim Nasional. Sekarang pemain dalam Liga, disamping mempertahankan nama tim, masing-masing bangga dan senang akan transfer dan gaji yang tinggi, itu sangat wajar karena sepakbola sudah menjadi industri.
Semua faktor itu harus disatukan oleh pengurus PSSI yang paham dan berdedikasi serta tentunya mempunyai leadership dan manajerial yang teruji. Apakah pengurus PSSI harus mampu secara finansial? Tentu sangat baik, tetapi pengurus yang baik justru yang bisa memajukan PSSI secara finansial dan itu bisa diraih apabila ada semangat yang sama dari semua pengurus untuk mencapai prestasi.
Penonton, sponsor dan iklan akan sangat banyak apabila ada prestasi. Jadi ada lingkaran antara dana dan prestasi, itulah industri.
Sekarang publik disuguhi tontonan pencalonan pengurus dengan semangat pantang menyerah. Kalau semangat ini diterapkan di lapangan sungguh terpuji. Janganlah energi habis untuk konggres dan demo, tetapi kita bersatu untuk tim yang kuat dan berprestasi.
Ada banyak teman dan media yang meminta saya turut dalam pencalonan Ketua Umum PSSI. Saya jawab, cukup sudah 10 tahun di bola, 20 tahun yang lalu. Mengurus bola itu sulit tidur. Kalau tim menang, bergembira sampai larut sambil makan-makan dengan para pemain. Membicarakan gol-gol yang indah. Keesokan harinya ucapan selamat dari semua orang, kalau kalah kita termenung dan membahas kekalahan, kadang saling menyalahkan sampai larut malam. Dan besok mendapat kritikan, kadang-kadang makian. Hanya bisa tidur tanpa komentar kalau seri, tapi itu bukan tujuan.