Artikel

Bola

Kusmayanto Kadiman

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

I listen, I learn and I change. Mendengar itu buat saya adalah langkah awal dalam proses belajar yang saya tindaklanjuti dengan upaya melakukan perubahan untuk menggapai cita. Bukan hanya indra pendengaran yang diperlukan untuk menjadi pendengar. Diperlukan indra penglihatan, gerak tubuh bersahabat dan raut muka serta senyum hangat. Gaul !

PSSI dan Jas Merah Siliwangi


HL | 21 February 2011 | 12:08 Dibaca: 556   Komentar: 34   2 dari 3 Kompasianer menilai bermanfaat

12983569451706648876

Persib bandung/Admin (kabarindo.com)

Mari kita ingat-ingat dua kalimat pembakar semangat yang dilontarkan Presiden Soekarno dalam pidato-pidatonya yang senantiasa memikat, khususnya dua penggalan berikut: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya” dan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Kalimat terakhir ini yag dipopulerkan dengan istilah Jas Merah.

Stadion Siliwangi Bandung

Siliwangi berasal dari Prabu Siliwangi yaitu julukan orang Sunda dan Cirebon untuk raja Padjadjaran, Sri Baduga Maharaja atau dikenal pula sebagai Ratu Jayadewata. (NB. Ratu dalam istilah kerajaan tidak selalu bermakna gender wanita. Raja Blahbatu, Bali yang bernama I Gusti Ngurah Djelantik juga memiliki nama resmi Ratu). Prabu Siliwangi ini sangat terkenal di provinsi JawaBarat dan Banten karena merupakan pemersatu dari dua tahta yaitu sebagai raja kerajaan Galuh dan raja kerajaan Sunda. Saat TNI melakukan transformasi dalam tubuh angkatan darat, kekuatan TNI-AD untuk Jawa Barat yang waktu itu masih mencakup Banten mengambil nama Siliwangi sebagai nama popular bagi Komando Daerah Militer (Kodam) III Jawa Barat. Bersamaan dengan penggunaan nama Siliwangi, sosok harimau (panthera tigris) atau maung dalam Basa Sunda dijadikan ikon TNI-AD Kodam III. Dan, dilengkapi dengan semboyan – Esa Hilang Dua Terbilang.

Kesehatan jasmani adalah faktor paling fundamental dalam setiap serdadu. Selain latihan fisik yang rutin dan dengan penuh disiplin, olahraga adalah wahana pembentuk dan penjaga kebugaran anggota Kodam III Siliwangi. Selain kebugaran fisik, menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Jawa Barat adalah salah satu nilai luhur kejuangan yang menjadi pilar pasukan baret hijau Siliwangi. Lapangan untuk pendidikan dan latihan yang dimiliki Kodam III banyak yang dibuka untuk umum bahkan beberapa diantaranya menjadi ikon Jawa Barat dan sifat keterbukaan ini tidak jarang membuat masyarakat umum tidak paham bahwa sarana dan prasarana itu sebetulnya milik Kodam III Siliwangi. Banyak kalangan yang memandang fasilitas itu adalah fasum yang dikelola Pemerintah Provinsi, Kota atau Kabupaten. Stadion Siliwangi yang kondang itu adalah salah satunya.

Stadion Siliwangi terletak disebuah lokasi strategis Kota Bandung yang keempat sisinya berupa akses jalan yaitu Jalan Lombok, Jalan Aceh, Jalan Manado dan Jalan Belitung. Menurut sejarah, Stadion Sliwangi semula adalah lapangan terbuka yang menjadi lahan latihan kebugaran jasmani bagi serdadu Kodam III Siliwangi. Bandung yang merupakan rumah bagi tim sepakbola Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PERSIB yang berpunca pada Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond) atau maung Bandung yang memiliki fans fanatik dengan julukan bobotoh PERSIB sering diidentikkan dengan Stadion Siliwangi padahal secara resmi kandang mereka adalah lapang sepakbola Sidolig, Jalan A Yani, Bandung. Citra ini terbentuk karena nyaris setiap kali laga kandang dan tandang seperti Liga Super Indonesia maka PERSIB memilih Stadion Siliwangi untuk laga kandang. Banyak yang mengaku fans PERSIB namun predikat fans fanatik hanya layak diberikan pada bobotoh yang menonton laga PERSIB kala diadakan di Stadion Siliwangi.

Kita tentu masih ingat perjuangan warga Bandung melawan penjajahan Belanda. Salah satu persitiwa sejarah adalah saat warga Bandung dengan patriotik membakar semua asetnya kala Bandung akan diduduki pasukan Belanda. Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan Api (BLA), 24 Maret 1946 dan diabadikan dalam lagu berjudul “Halo-halo Bandung”. Kembalinya warga ke kota Bandung memicu para serdadu DI Kodam III Siliwangi untuk membuka luas semua fasilitas olaharaganya agar warga Bandung secepat mungkin betah tinggal dan membangun Bandung. Adalah Kolonel Infanteri AE Kawilarang, Panglima (pertama) Kodam III Siliwangi yang mengambil inisiatif mengerahkan pasukan, mengalokasikan dana tentara dan mengajak warga Bandung mengubah lapang terbuka menjadi Stadion Siliwangi dengan kapasitas 25.000 penonton. Peresmian Stadion Siliwangi dipimpin langsung oleh sang PangDam Siliwangi dan untuk memeriahkan pembukaan itu, diadakan pertandingan persahabatan PERSIB melawan PERSIJA. Stadion Siliwangi terus bebenah dan pada PON V, 1961 menjadi lokasi pembukaan dan sekaligus peresmian Stadion Siliwangi oleh Presiden Soekarno.

Kodam III Siliwangi, PERSIB dan PSSI

1298264877207107125Pinjam meminjam pemain dan pelatih antara persatuan sepakbola Kodam III dengan PERSIB adalah hal lumrah. Relasi harmonis antar kedua organisasi ini tidak sebatas pada pinjam pakai sarana dan prasarana. Begitu pula dalam kepengurusan organisasi PERSIB, PangDam adalah ex-officio organ PERSIB. TNI-AD adalah bagian tidak terpisahkan dari warga Jawa Barat, khususnya Bandung terlihat jelas dalam persepakbolaan Jawa Barat.

Keberadaan PERSIB dalam persepakbolaan nasional dalam naungan PSSI juga bukan merupakan isu perdebatan. Nama-nama besar seperti Adjat Sudrajat, Djadjang Nurdjaman, Robby Darwis dan Nandang Risnandar adalah segelintir nama pemain yang sukar dipisahkan antar PERSIB dengan PSSI. Tendangan balik Bandung yang popular itu merupakan gaya Robby Darwis ketika menjatuhkan badan dan menendang bola bergaya salto. Begitu pula pelatih Indra Tohir yang legendaris. PERSIB dan PSSI sama-sama bangga dan mengaku bahwa Indra Tohir adalah pelatih terbaiknya.

Jika mencoba menarik garis hubungan antara Kodam III Siliwangi dengan PSSI memang tidak semudah menorehkan pensil pada selembar kertas putih. Kodam III Siliwangi adalah organ vital dari TNI-AD untuk Jawa Barat. TNI-AD memiliki klub sepakbola yang juga diperhitungkan dalam kancah persepakbolaan nasional yaitu PSAD. PSAD yang tentunya erat terkait dengan PSSI. Jika kita rajin menggali dan mencari artefak sejara pasti banyak fakta ditemukan bagaimana kesalingtergantungan PERSIB, PSAD dengan PSSI.

Prihatin kita membaca di Koran, mendengar di radio dan menonton di televisi bagaimana segelintir petinggi PSSI menafikkan keberadaan PSAD hanya karena tidak ada secarik kertas yang menunjukkan PSAD sebagai anggota resmi PSSI. Bukankah sepakbola itu mengedepankan fair-play yang tentu memiliki makna luas bukan hanya saat laga dilapangan hijau. Jika polemik pengguguran balon Ketum PSSI terus berlanjut hanya karena PSAD itu tulalit terhadap PSSI maka bukankah ini manifesto dari politisasi persepakbolaan RI? Marilah kita senantiasa mengenakan Jas Merah.

Jayalah PSSI !

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: