
Dibaca: 374
Komentar: 2
Nihil
Banyak yang menginginkan agar Nurdin Halid, ketua Umum PSSI, mundur dari jabatannya. Setidaknya ini bisa dilihat dari opini publik, entah lewat teriakan di stadion ataupun lewat gadget. Baik yang di stadion atau yang lewat twitter, ramai-ramai menyuarakan ini: “Nurdin Turun”.
Tapi kenapa Nurdin harus turun?
Terlepas dari carut marutnya sepakbola Indonesia, mulai dari kacaunya jadwal liga hingga ke keringnya prestasi, ada satu hal tentang Nurdin yang membuatnya tidak layak menjabat ketua PSSI. Nurdin Halid adalah seorang mantan narapidana untuk kasus korupsi! Artinya, dia terang-terangan adalah seorang koruptor!
Saya sebagai seorang penggemar sepakbola sangat tidak rela kalau federasi sepakbola dipimpin oleh seorang koruptor. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Nurdin juga duduk di bangku kehormatan, dekat dengan pak Presiden. Oalah!! Pak Presiden! Kok mau-maunya anda duduk berdekatan dengan mantan napi itu, menyaksikan timnas bertanding?! Kursi kehormatan tidak layak bagi koruptor macam dia.
Ya, sebagai penggemar sepakbola, saya sangat menginginkan Nurdin Halid mundur dari jabatannya. Bukan karena tidak becus mengurus PSSI, melainkan karena Nurdin adalah mantan napi, untuk kasus korupsi pula.
Soal PSSI, ia memang punya kekacauannya sendiri, siapapun kepalanya. Sistemnya memang sudah bobrok. Sukur-sukur kalau Nurdin bisa turun dari jabatannya, diikuti dengan perombakan ditubuh PSSI, membenahi sistem.
Tapi sepertinya melengserkan Nurdin Halid bukan perkara mudah. FIFA selaku federasi sepakbola tertinggi didunia pun tak mempan. Celakanya lagi, negara tidak boleh melakukan intervensi terhadap federasi. Jadi baik Menpora ataupun Presiden sekalipun, tidak bisa mencabut Nurdin dari kursinya.
Sungguh saya pesimis kalau Nurdin bisa Lengser dari PSSI.
Sebagai seorang penggemar sepakbola, saya tentu ingin Nurdin lengser dari jabatannya. Bukan karena ia tak becus memimpin PSSI, tapi karena ia koruptor, mantan napi. Federasi olah raga yang paling populer di Indonesia dipimpin oleh seorang koruptor, mantan napi, sungguh memuakkan.