Artikel

Bola

Bimo Tejo

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Kualifikasi profesional: guru kimia. Kualifikasi non-profesional: suami, ayah, dan penulis lepas.

3-0: Akhir Sebuah Kesurupan Massal?


HL | 27 December 2010 | 10:48 Dibaca: 3443   Komentar: 57   2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik

1293421506777654652

Kesurupan massal? (kompas.com)

Mungkin tidak berlebihan jika saya katakan kericuhan pendistribusian tiket laga final AFF Suzuki Cup di Gelora Bung Karno kemarin adalah tanda-tanda kesurupan massal.

Sanggup menjebol pagar besi GBK (catatan: kesurupan sanggup meningkatkan kekuatan fisik orang yang tadinya lemah), sanggup merusak rumput lapangan sepakbola yang berakibat Indonesia ditegur oleh AFF, dan kematian seorang pengantri tiket…bukankah ini adalah tanda-tanda massa yang sudah dilanda kesurupan?

Astaghfirullah. Ampuni kami ya Tuhan. Sepakbola yang intinya hanyalah sebuah permainan untuk bersenang-senang berubah menjadi roh halus yang sanggup merasuki jiwa ratusan ribu orang. Lebih dahsyat ketimbang kerasukan setan yang beritanya kerap saya baca di media massa!

Di Malaysia, sepakbola tidak sampai menyebabkan kesurupan massal. Dengan jumlah penonton hampir menyamai GBK, mengantri tiket di Stadium Bukit Jalil menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tiket dijual dengan harga super murah dibanding harga di Indonesia.Tidak ada sistem 3 peringkat (nomer antrian-voucher-tiket); antri sebentar dan tiket langsung di tangan. Tidak ada massa yang beringas sampai menjebol pintu besi. Suporter Garuda dan pendukung Harimau Malaya saling melambai, bahkan berfoto bersama. Di Bukit Jalil tidak ada kesurupan. Sepakbola menjadi sebuah festival yang beraura persahabatan dan kegembiraan.

Kenapa sepakbola tidak menyebabkan kesurupan di Malaysia? Saya duga karena publik Malaysia berpikir masih banyak hal lain yang lebih penting ketimbang sepakbola. Pekerjaan, keluarga, menikmati hidup…hal-hal ini jauh lebih penting ketimbang sepakbola. Yang saya tangkap dari sikap publik Malaysia adalah “kecuekan rasional”: ah, kalah pun tidak apa, masih banyak hal lain yang lebih penting. Tapi kalau menang ya alhamdulillah. Tak heran loket tiket di Bukit Jalil baru diserbu pada dua hari terakhir sebelum pertandingan. Dan antrian berjalan singkat tanpa insiden.

Lain dengan di Indonesia. Terhimpit oleh kesusahan hidup, kecewa dengan pemerintah yang bagai kehilangan akal dalam mengelola negara, orang-orang sengsara ini sanggup mengorbankan APAPUN demi selembar tiket. Kalah-menang timnas adalah hidup-matinya mereka. Menjuarai Piala AFF Suzuki adalah obat yang diyakini sanggup menyembuhkan kesusahan hidup untuk sementara waktu. Ya, bagi orang-orang sengsara, sepakbola ibarat candu. Candu yang bukan hanya menyebabkan ketagihan, tapi kesurupan!

Kesurupan sepakbola di Indonesia menyebabkan publik tidak sanggup berpikir rasional. Apakah prestasi terbaik Indonesia di peringkat regional? Nol. Hanya karena menang di kandang sendiri lantas sudah sangat yakin akan sanggup menjadi jawara ASEAN. Padahal dari hitung-hitungan rasional, Malaysia lebih layak menjuarai event ini karena mereka sudah terbukti bukan jago kandang. Dan jangan lupa, mereka adalah peraih medali emas sepakbola SEA Games 2009!

Ya, kesurupan inilah yang membuat kita menyanjung timnas setinggi langit. Tim yang baru bisa melangkah satu-dua ini sudah kita nobatkan sebagai juara dunia lari 100 meter! Wajarlah ketika Alfred Riedl, seorang yang menjunjung tinggi rasionalitas, berpikir kekalahan ini sebagai blessing in disguise, ada hikmah terselubung. Kekalahan ini mampu membawa timnas dan publik kita untuk kembali menjejak bumi.

Kekalahan ini adalah obat paling mujarab untuk mengobati kesurupan massal bangsa kita. Semoga tidak ada kesurupan massal ketika final kedua di GBK hari Rabu nanti. Semoga kita akan kembali melihat sepakbola sebagai sebuah festival, sebuah kegembiraan yang dirayakan bersama-sama.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: