Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Agus Setyabudi

www.retailsoft-platinum.com

Ancaman bagi Perjuangan Garuda

OPINI | 21 December 2010 | 01:45 Dibaca: 159   Komentar: 3   0

12928952671928625165Perjuangan tim merah putih ‘Garuda’ belumlah berakhir, masih ada  pertandingan pamungkas melawan musuh klasik yang sering berseteru di berbagai hal, termasuk di bidang Olah Raga.

Harga diri, kehormatan dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia dipertaruhkan pada saat menghadapi Malaysia di pertandingan tersebut, sehingga pertandingan diperkirakan akan berlangsung keras dan penuh emosi di kedua belah pihak.

Menjelang berlangsungnya pertandingan bergengsi ini, ternyata tim Garuda mendapat beberapa ancaman yang dapat membahayakan permainan penuh semangat dan tidak kenal lelah seperti yang telah diperlihatkan hingga saat ini.

Dan sangat disayangkan, bahwa ancaman ini bukan berasal dari persiapan teknis di tubuh tim Garuda ataupun ancaman dari tim lawan yang mempunyai kualitas (setidaknya menurut penulis) masih di bawah tim Thailand ataupun Philipine yang memiliki 9 orang pemain naturalisasi. Ancaman-ancaman tersebut justru berasal dari : politisasi, sikap opportunist dan komersialisasi.

Politisasi

Politisasi telah membudaya di hampir semua aktifitas yang ada di tengah masyarakat, seperti kejadian yang masih sangat lekat dengan ingatan kita, dimana bendera parpol berkibar memenuhi setiap sudut camp pengungsian di daerah bencana. Demikian juga dengan keberhasilan tim Garuda memikat dan mempesona hampir seluruh rakyat Indonesia, tidak disia-siakan oleh tokoh partai politik untuk men-dompleng, dengan harapan dapat membangun citra diri dan partainya untuk memperoleh simpati masyarakat tanpa rasa malu sedikitpun. Kemana tokoh-tokoh ini, pada saat prestasi tim Garuda terpuruk atau yang lebih terlihat di depan mata, mengapa sekarang (seolah-olah) tidak ada yang peduli dengan prestasi atlet-atlet bulutangkis kita ?, malahan sebagian dari mereka berjuang secara mandiri dan profesional tanpa mengharapkan bantuan dari pemerintah, partai ataupun tokoh-tokoh yang sok ‘dermawan’.

Opportunist

Hampir setiap hari kita melihat banyak komentar dari komentator-komentator yang memanfaatkan momen AFF, lagi-lagi untuk membangun citra dirinya, meskipun harus dengan komentar yang bersifat subyektif, menyudutkan dan kadang-kadang tidak bermutu. Beberapa komentator terlihat sangat ‘anti naturalisasi’, sok nasionalis, padahal tanpa dua gol dari Gonzales, belum tentu tim Garuda melaju ke Final. Demikian juga dengan ketua PSSI yang berpikiran dangkal untuk memulihkan namanya, dengan ‘pamer’  membagikan 3 kardus yang berisi uang bonus bagi pemain, cara yang sangat kasar dan terkesan merendahkan para pemain, belum lagi ada pengacara yang menggunggat penggunaan Simbol Negara, Garuda Pancasila untuk tim merah putih.

Komersialisasi

Media dengan gaya infotainment khas Indonesia, tidak mau melepaskan momen ini untuk mengejar dan memburu dan mendapatkan info sedetail mungkin tentang pemain timnas, pemain diperlakukan layaknya artis-artis sinetron dengan pemberitaan yang berlebihan  dan jika perlu yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola pun dibahas habis-habisan. Untuk kasus ini, kita beruntung memiliki pelatih yang tegas dan dingin, yang melarang media untuk mendekati camp latihan.

Ancaman-ancaman di atas dapat dipastikan mengganggu konsentrasi dan melemahkan  para pemain menjelang partai final dan bisa mengakibatkan antiklimaks untuk permainan Garuda. Dan kita berharap semoga para pemain kita tetap tegar dan berpendirian kuat, sehingga tidak mabuk popularitas dan materi yang telah mereka dapatkan sebelum mencapai garis finish.

Maju dan terbanglah tinggi Garuda ….

Tags: aff timnas garuda

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 5 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 5 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 9 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Modern atau Kampungan? …

Alfarizi | 9 jam lalu

Wayang Listrik dalam Panggung Teater …

Trie Yas | 9 jam lalu

Tolong, Jangan Rebutan Jersey Suarez! …

Rizal Marajo | 9 jam lalu

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 10 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: