Artikel

Bola

Daniel Sasongko

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Jurnalis yang selalu punya gairah untuk menulis tentang sepakbola, gadget, internet, jejaring sosial, ilmu pengetahuan, dan drama di dalam semuanya. Itulah hidup saya.

Dunia Milik Para Sprinter


OPINI | 17 August 2010 | 00:20 Dibaca: 389   Komentar: 3   Nihil

Panggung sepak bola dunia telah dikuasai para sprinter yang mampu berlari secepat kilat. Merekalah penentu tim yang akan berjaya di musim-musim mendatang.

Formasi di dunia berkembang pesat. Mulai dari pola 3 pemain depan, 2 penyerang hingga 1 striker gantung. Spanyol contohnya. Di Piala Dunia 2010, La Furia Roja berharap banyak pada Fernando Torres. Dialah pahlawan Espana di Euro 2008.

Dan bukan El Nino yang jadi aktor, melainkan Andres Iniesta. Lelaki berpostur 170 sentimeter melesatkan Spanyol ke tangga juara dunia di final pertamanya sepanjang sejarah.

Penentu kemenangan di Piala Dunia 2010.

Andres Iniesta (Spanyol): Penentu kemenangan di Piala Dunia 2010. (sumber: Google Image)

Iniesta mungkin ekspektasi kedua. Pengamat lebih melihat David Villa yang lebih berpotensi jadi penentu di partai puncak. Maklum saja, pesepakbola bertinggi 175 sentimeter adalah kolektor 5 gol sebelum final Afsel 2010. Terbanyak sepanjang turnamen.

Kenyataannya, Iniesta yang jadi penentu dan bukan Villa saja yang menyanding gelar top skorer. Diego Forlan juga menceploskan gol sebanyak Villa. Pria Kapten Uruguay setinggi 180 sentimeter berhak atas penghargaan Bola Emas sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2010.

Iniesta dan Villa bisa dikategorikan sebagai pemain mungil karena memiliki tinggi di bawah pesepak bola mancanegara. Tapi, Forlan tidak.

Benang merah apa yang dimiliki ketiga pemain ini?

Benar, talenta sebagai pelari cepat. Sprinter. Olah bola ketiganya bukan dalam kada yang sama, namun Iniesta, Villa, dan Forlan punya kecepatan sama ketika beradu lari di jarak 100 meter. Kurang lebih 11 detik.

Meski minim skill tapi kalau seorang pemain mampu mengeksploitasi kecepatan dan berbakat visioner, ia akan jadi bintang penentu kemenangan sebuah tim.

Mengapa harus punya visi?

Simak apa yang dikatakan Paolo Maldini terhadap apa yang dilakukan Arrigo Sacchi di AC Milan ’90-an. “Sebelum Sacchi datang, adu pemain terjadi di setiap posisi. Namun ketika ia melatih, semuanya berdasar pada pergerakan tanpa bola dan itu yang jadi kunci kemenangan-kemenangan kami,” kata Maldini seperti dilansir Expert Football.

Faktanya memang demikian. Pergerakan Iniesta, Villa, dan Forlanlah yang membuat ketiganya meraih kesuksesan di PD 2010. Selaras dengan apa yang terjadi di lantai bursa transfer musim panas ini.

Rafael Benitez begitu ngotot memertahankan Douglas Maicon ketika Jose Mourinho ngebet memboyongnya dari Inter Milan ke Real Madrid. Satu yang ada di benak Rafa: gol indah Maicon ke gawang Korea Utara. Dengan lesatan larinya, bek sayap Brasil ini begitu mudah lolos dari sergapan pemain lawan dan memberi perbedaan pada permainan I Nerazzurri.

Hal yang sama dirasakan Carlo Ancelotti. Manajer Chelsea juga menolak melego Ashley Cole ketika The Special One menginginkan jasanya. Pengalaman Cole dan kemampuan sprintnya yang membuat Don Carlo lebih memprioritaskannya ketimbang membeli Fabio Contreao.

Dan apa jadinya kalau Cole dipaksakan bermain? Manchester United mampu mengeksploitasi sisi lemah Chelsea di Community Shield 2010, Minggu (8/8) lalu. Dua gol kreasi Antonio Valencia dan Javier ‘Chicharito’ Hernandez adalah buktinya. Cole gagal menampilkan kecepatan dan kelugasannya menutup Wayne Rooney dan Valencia, dua arsitek gol itu.

Uniknya, sprinter lapangan hijau jadi buruan utama sejumlah klub. Sebut saja Juventus. Si Nyonya Besar berusaha keras memindahkan Michel Bastos. Performanya di sisi kiri pertahanan Brasil di PD 2010 membuat Lyon berjuang keras mempertahankannya dari bidikan Juve.

Lupakan permusuhan dan ingat penampilan Cristiano Ronaldo. Mungkin itu yang ada di benak Mourinho. Ketika benar dilakukan, Madrid yang akan menangguk untungnya.

Hasilnya sudah terlihat ketika Los Blancos, Sabtu (7/8). Ketinggalan 2 gol dari Los Angeles Galaxy, Madrid menutup laga uji coba itu dengan kemenangan 3-2. Ronaldo menyumbang 1 gol dan 1 assist yang dimaksimalkan Gonzalo Higuain.

zimbio.com)

Cristiano Ronaldo (kiri) & Gonzalo Higuain (Real Madrid): Harapan utama Jose Mourinho. (sumber: zimbio.com)

Tampaknya, Jose tahu benar potensi ledak duo penyerang ini. Higuain dan Ronaldo mengepak 43 El Merengues di La Liga musim lalu. Duet ini juga berdiri berurutan di posisi runner-up dan ketiga daftar el pichichi.

Skenario ini yang sepertinya bakal jadi andalan Mourinho di Spanyol dan Eropa. Kecepatan Ronaldo menyayat pertahanan dan menarik bek-bek lawan akan memberi keuntungan lebih.

Dan dengan ketepatan bergerak tanpa bola dan insting predator Higuain dalam menempatkan diri, Madrid layak berharap mendulang banyak gol dan mengakhiri paceklik trofi.

Hmmm, gemerlap lapangan hijau kolong langit ini justru ditentukan oleh pemain yang piawai mengolah bola, tapi dengan pergerakan tanpa bola dan jangan lupa: sprint.

*****

Run for Your Life, Theo …

Teori menarik soal Theo Walcott. Pesepak bola Arsenal ini terhitung biasa dalam mengolah bola, namun begitu luar biasa ketika berlari.

Faktor ini pula yang membuat Walcott memenangi persaingan mendapatkan hati Arsene Wenger. Sebastian Larsson yang punya umpan genius, hanya bertahan 3 pertandingan sementara Walcott mampu bermain 4 musim bersama Arsenal. Seperti dikutip Zonal Marking, kecepatan Walcott membuatnya lebih cocok dengan pola permainan The Gunners.

Sprintnya melebihi Thierry Henry.

Theo Walcott (Arsenal): Sprintnya melebihi Thierry Henry. (sumber: Google Image)

“Sungguh mengagumkan ketika melihat kenyataan Theo Walcott punya bakat sepak bola minim. Tapi tanpa kecepatan larinya, ia tak akan jadi pemain profesional. Bukan yang lain,” ujar Pete Gill, kontributor ahli Football365.

Lesatan lari Walcott yang luar biasa memang diamini Arsene Wenger. Pemuda 21 tahun ini memecahkan rekor sprint Thierry Henry di Arsenal untuk jarak 5, 10, dan 40 meter.
Walcott merekam 4,72 detik dan catatan King Henry lebih lambat 0,1 detik.

“Kurang lebih sekitar itu. Tiga sprinter tercepat Arsenal saat ini adalah Walcott, Carlos Vela, dan Armand Traore,” ujar Arsene Wenger yang dikutip Mirror Football pada Desember 2009.

Menurut The Professor, kemampuan lari cepat ala Theo bisa membuatnya menyaingi performa sprinter terbaik dunia saat ini, Usain Bolt.
So, run for your life, Theo..

*****

- Seperti dimuat di Tabloid BOLA edisi Senin, 16 Agustus 2010: hal. 13

- Dapat dibaca juga di blog pribadi penulis

@den_ikko

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: