Back to Kompasiana
Artikel

Bola

Agus Maulana

Agus Maulana, S1 Manajemen jurusan marketing STIE KAMPUS UNGU ASMI

Mencari Solusi Menuju Piala Dunia

OPINI | 12 July 2010 | 07:38 Dibaca: 92   Komentar: 0   0

Pembinaan pemain sepak bola usia dini, yang dikelola oleh Sekolah sepak bola, belum menjadikan sepak bola nasional melahirkan pemain-pemain berkelas. Padahal, sekolah sepak bola tersebut ada diseluruh PENGDA PSSI. Meskipun ada, kwalitasnya biasa-biasa saja, sehingga ketika PSSI aakan membentuk TIMNAS merasa kesulitan karena skill ball dan teknik yang kurang memadai atau belum layak untuk level dunia.

Lahirnya pemain berkwalitas dengan segala kelebihannya, tidak lahir begitu saja, tidak bisa instant tetapi perlu melalui proses panjang, perlu waktu, tenaga, pikiran,serta dana yang tidak sedikit plus orang gila bola.

Banyak aspek yang perlu diperbaiki dalam mengelola serta membina pemain usia dini yang selama ini masih bersifat asal jadi, tidak terkoordinasi dan tidak mempunyai sistem manajemen pengelolaan SDM terukur yang berbasis pada pengembangan prestasi individu dan team secara terpadu. Kompleknya masalah dipembinaan usia dini berpengarus secara langsung pada tahap lanjutan menuju permainan sepak bola sesungguhnya.

Sekolah sepak bola ( SSB )  sekarang ini masih bersifat kwantitas belum kwalitas sebagai dasar kemajuan sepak bola Nasional. ( Orientasi terhadap pendapatan club semata )

Kendala-kendala seperti diatas juga disebabkan oleh kurangnya perhatian yang serius dari para pengambil keputusan ditambah minimnya sarana dan prasarana latihan sehingga berdampak kepada minimnya prestasi  belum lagi sistem kompetisi antar Sekolah sepak bola yang carut marut tanpa standard baku menjadikan kompetisi menjadi tidak berarti ( Hanya memenuhi kalender event tahunan PSSI ).

Kematangan mental, skill ball secara individu maupun team akan terbentuk oleh kompetisi yang teratur, sementara latihan adalh dasr pemahaman kearah permainan itu sendiri. Kompetisi yang teratur, terarah dan terencana akan melahirkan pemain-pemain yang berkwalitas, berwawasan luas dan bermental tangguh sebagai petarung dan seniman dilapangan hijau.

Jadi pada dasarnya keseimbangan antara pembinaan dan kompetisi harus berjalan seirama, tidak bisa dipisahkan. Hanya yang menjadi masalah sekarang ini adalah masih kurangnya kompetisi untuk  usia dini , sehingga pemain-pemain berbakat tidak muncul kepermukaan.

Kompetisi untuk usia dini tidak bisa secara temporer, tapi harus terus menerus dilaksanakan dan dikemas kedalam sebuah sistem kompetisi berkelanjutan yang bertujuan untuk merangsang pertumbuhan serta menyerap metode-metode latihan yang diberikan.

Disekolah bola para pemain dibagi kedalm beberapa kategori usia/kelompok umur, antara lain : Usia 9-10 tahun, 11-12 tahun, 13-14 tahun, 15-16 tahun dan 17-18 tahun dan SSB tersebut ada dibawah naungan tim perserikatan, sesuai dengan ketentuan PSSI bahwa tim perserikatan harus mempunyai tim binaan dan harus berkompetisi. Tujuan yang ingin dicapai oleh PSSI adalaah agar SSB dapat menghasilkan pemain yang berkwalitas dan menjadi bagian didalam tim seniornya kelak.

Peraturan yang bagus seharusnya juga diimbangi dengan aplikasi nyata dilapangan seperti pembenahan kompetisi yang masih rendah mutunya baik secara kwalitas maupun kwantitas. Idealnya, setiap kelompok umur (KU) bermain dalam kompetisi minimal 20 kali/musim kompetis, artinya dalam 1 bulan ada 2 kali pertandingan. Ketatnya jadwal kompetisi akan berdampak terhadap kemampuan teknik, phisik, serta pengendalian diri dan emosi dari masing-masing individu.

20 kali pertandingan akan memakan waktu 10 s/d 12 bulan sehingga jenjang usia pemain dari tahun ke tahunyang terus naik akan terus mengikuti kompetisi sesuai dengan usia pemain bersangkutan.

Contoh. Usia 9-10 tahun jika mengikuti kompetisi 10 s/d 12 bulan maka yang berusia 10 tahun akan bisa mengikuti kompetisi diatasnya dan seterusnya, sehingga tidak ada waktu jeda penundaan usia.

Jadi jika mengacu kejumlah pertandingan diatas maka masing-masing wilayah/PENGDA harus ada sekolah sepak bola sebanyak 22 s/d 24 SSB. Katakanlah PERSIJA Pusat maka tim binaannya harus memenuhi kuota tersebut, jika tidak memenuhi harus bergabung dengan wilayah lain atau jika perlu seluruh SSB dilima wilayah jakarta bergabung menjadi satu setelah melalui seleksi ketat untuk mengadakan kompetisi yang diatur oleh PENGDA PSSI sebagai penanggung jawab.

Penggabungan ini dimaksudkan agar kompetisi kelompok umur menjadi semarak, memberikan motivasi lebih kepada pemain , pelatih, pemilik, serta sponsorship dan memudahkan para pemandu bakat untuk memilih pemain yang berkawalitas. Logikanya, dengan penggabungan kompetisi wilayah DKI pastilah akan ditemukan satu atau dua orang pemain berkawalitas tinggi, belum lagi wilayah lain seperti Jateng, Jatim, dan propinsi lainnya di Indonesia. Sumber daya manusia Indonesia yang cukup banyak, jika dikelola dengan serius rasanya tidak sulit hanya mencari sebelas pemain yang berkwalitas tinggi, asal ada kemauan, serta dukungan semua pihak mulai dari Pemerintah, PSSI, pemilik SSB, dan juga pemilik dan yang juga harus gila bola.

Tujuan dari tulisan ini adalah terbentuknya TIMNAS yang solid dan tangguh luar dalam bisa berbicara ditingkat Asia bahkan Dunia. Selagi masih ada waktu, tidak ada salahnya berusaha semaksimal mungkin agar piala dunia 2014 di Brasil dapat kita rengkuh bukan dengan mimpi tapi dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Mengagumi sebuah Timnas negara lain di Piala dunia sah-sah saja, tetapi alangkah indahnya jika yang dikagumi itu adalah anak bangsa sendiri dengan bendera Merah Putih berkibar ke seantero dunia.

Semoga dengan kompetisi yang terarah dan teratur disemua tingkat usia senior dan junior, sepak bola indonesia bisa kembali bangkit dan berjaya menjadi macan Asia disegani dan dihormati karena prestasi tinggi, tunggu apa lagi…. go football Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 4 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 6 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: