Back to Kompasiana
Artikel

Balap

Arief Firhanusa

Pria yang sangat gentar pada ular

Valentino Rossi Meninggal…

REP | 26 February 2014 | 18:15 Dibaca: 23464   Komentar: 8   0

ENTAH darimana sumbernya, seharian ini berita tentang kematian Valentino Rossi beredar sangat lekas dari BlackBerry satu ke BlackBerry lainnya. Status-status BlackBerry Messenger (BBM) pun larut dalam duka cita, berantai, mirip pembunuhan sadis.

Tak ayal, berita itu singgah pula di BB saya melalui BC (broadcast). “Turut berkabung atas wafatnya The Doctor Valentino Rossi. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan YME”. Begitu bunyi BC yang saya terima tadi, seraya menyebut penyebab meninggalnya pebalap kelahiran Italia, 16 Februari 1979 ini. Dikabarkan, Rossi tewas saat jajal arena pacu di Sepang, Malaysia.

Sejenak saya terperanjat, dan bergegas mencari informasi. Ternyata tak satu pun pemberitaan yang menyebutkan Rossi menghembuskan nafas terakhir. Yang ada malah berita mengenai aksinya dalam tes MotoGP di Sepang, hari ini. Tes awal musim yang tanpa dilibati Marc Marquez itu menempatkan Rossi di urutan terdepan dengan catatan waktu 2 menit 01,349, dikuntit Alvaro Bautista di trap kedua, dan Pol Espargaro di posisi ketiga.

Berita hoax mengenai kematian Rossi tak hanya kali ini saja diisukan orang-orang. Pada Februari 2013, Rossi juga diberitakan meninggal setelah mengalami kecelakaan hebat di Sirkuit Sepang. Padahal, di pacuan baru motor M1 itu Rossi hanya melakukan serangkaian tes. Ia menyodok tiga besar setelah bersaing ketat dengan Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa.

Kemudian, pada Juli 2013 Rossi juga dikabarkan wafat. Kabar yang beredar, ia mengalami kecelakaan tunggal menggunakan mobil di Route 80 antara Morristown dan Roswell, Amerika Serikat. Dalam mobil Rossi, seperti berita hoax saat itu, ditemukan obat-obatan terlarang dan beberapa botol alkohol.

November, masih di 2013, Rossi juga diberitakan kehilangan nyawa di arena pacu Catalunya, Valencia, saat ia menjajal motor barunya, Yamaha YZRM1. Sontak isu itu menyebar mirip wabah melalui Twitter dan jejaring sosial.

Namun, seperti sebelumnya Rossi ternyata baik-baik saja. Banyak fans Rossi larut dalam suasana berkabung saat itu, dengan menulis pesan-pesan di Facebook dan Twitter, antara lain: “Selamat jalan Rossi 46, we will love you forever … ” sebelum akhirnya mereka kecele bahwa berita itu bohong belaka.

-Arief Firhanusa-

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 5 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 8 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Prof Lincolin Arsya... | 9 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 9 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: