Back to Kompasiana
Artikel

Atletik

Nabire dan Tragedi Kejuaraan Tinju Berdarah

REP | 15 July 2013 | 16:06 Dibaca: 692   Komentar: 6   1

Nabire kota kecil di punggung Pulau Irian ini mendadak terkenal di seluruh dunia. Terkenalnya kota ini bukan karena terjadinya lagi gempa seperti pernah dialaminya nya pada tahun 2004 lalu dengan kekuatan 7, 2 SR. Bukan juga karena keindahan alamnya namun terkenal karena tragedi berdarah kejuaraan tinju amatir yang diadakan oleh pemerintahan Kabupaten Nabire untuk menyaring atlet tinju untuk menghadapi Pekan Olahraga Daerah Provinsi Papua oktober mendatang.

Kejuaraan tinju amatir bupati Cup yang berlangsung dari tanggal 4 - 14 juli 2013 itu awalnya berlangsung aman-aman saja. Saking amannya tidak ada satupun media nasional apalagi internasional yang memberitakannya, termasuk kompasiana kita ini. Namun di malam Final 14 juli 2013 terjadi kerusuhan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dalam Kerusuhan itu info terakhir memberitakan korba tewas adalah 18 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire. Rinciannya korban tewas 11 perempuan dan 7 laki-laki. Sementara korban luka adalah 34 orang yang terdiri dari anak-anak, wanita dan pria dewasa.

Tragedi berdarah yang menjadi perhatian dunia ini diawali oleh himbauan Bupati Nabire Isaias Douw kepada penonton yang tidak punya tiket dan berada di luar gedung daerah tempat pelaksanaan Final Kejuaraan Tinju ini diadakan agar masuk ke dalam gedung padahal gedung waktu itu sudah penuh oleh penonton yang mempunyai tiket. Akibatnya gedung dengkan kapasitas 1000 orang itu dipadati oleh 1500 -an orang lebih. Bupati sangat senang dengan antusiasme warganya ini.

Final tinjupun dilaksanakan, Akhirnya yang keluar sebagai pemenang pada final kelas 58 kilogram ini adalah Alpius Rumkorem dari sasana persada yang menag angka mutlak melawan Yulius Pigome dari Sasana Mawa. Setelah selesai prosesi pemberian hadiah pun segera dilaksanakan. Tiba-tiba suporter Yulius Pigome, yang tidak terima dengan kekalahan, berusaha naik ke atas ring, tetapi dihadang oleh petugas keamanan dari Dalmas Polres Nabire bersama Satuan Polisi Pamong Praja yang mengamankan jalannya kejuaraan ini.

Protes kubu Yulius Pigome itu membuat pendukung Alpius Rumkorem marah, lalu terjadilah adu fisik suporter di sekitar gelanggang, mereka saling lempar kursi dan saling lempar botol minuman. Menurut saksi mata mengatakan perusuh itu adalah para pemuda yang mabuk. Kerusuhan ini membuat penonton panik dan berusaha keluar dari gedung, Bupati Nabire yang hadir mencoba menenangkan malah ikut jadi amukan suporter kubu yang kalah. Akibat pintu gedung yang terbuka cuma satu dan saking padatnya gedung membuat penonton yang berlarian keluar saling sikut dan tarik akibatnya banyak penonton yang jatuh dan tewas karena kehabisan nafas dan terinjak penonton lain serta tak sedikit yang luka-luka.

Nabire pun mendadak terkenal karena tragedi ini. Berbagai pendapat pun bermunculan, ada yang menyalahkan bupati karena mengajak penonton tanpa tiket masuk gedung, ada yang menyalahkan panitia penyelenggara yang tak sigap mengatasi kerusuhan¬† dan ada pula yang mengatakan bahwa kondisi mental masyarakat papua yang masih “hobi” mabuk-mabukan dan menyelesaikan masalah dengan adu fisik seperti seringnya perang antar suku terjadi di wilayah itu sebagai penyebabnya.

Namun penulis menyimpulkan apapun penyebabnya. Semua kita harus berkaca kepada musibah ini. Semua ini bisa saja terjadi dimana saja di seluruh indonesia. Setiap kejuaraan yang melibatkan orang banyak harus dipatuhi benar rambu-rambu yang disepakati, mulai dari kapasitas gedung, jumlah personel keamanan yang cukup,  dilarangnya suporter masuk-mabukan dan membawa senjata dan sebagainya harus diperhatikan.  Panitia harus tegas, walau presiden sekalipun yang menghimbau dan itu melanggar peraturan, harus ditolak demi kelancaran acara. Semoga kedepan kita makin dewasa. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pembully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 2 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 7 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Senandung Rindu …

Ariesa Putris | 7 jam lalu

Perlukah Bbm Naik Karena Subsidi Jebol? …

Shohibul Hadi | 8 jam lalu

Serba Salah: Jokowi dan AM Tukang Tusuk Sate …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Hati Beling …

Binoto Hutabalian | 8 jam lalu

Berkaca Pada Dekrit Presiden …

Haries Sutanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: