Back to Kompasiana
Artikel

Atletik

Nabire dan Tragedi Kejuaraan Tinju Berdarah

REP | 15 July 2013 | 16:06 Dibaca: 689   Komentar: 6   1

Nabire kota kecil di punggung Pulau Irian ini mendadak terkenal di seluruh dunia. Terkenalnya kota ini bukan karena terjadinya lagi gempa seperti pernah dialaminya nya pada tahun 2004 lalu dengan kekuatan 7, 2 SR. Bukan juga karena keindahan alamnya namun terkenal karena tragedi berdarah kejuaraan tinju amatir yang diadakan oleh pemerintahan Kabupaten Nabire untuk menyaring atlet tinju untuk menghadapi Pekan Olahraga Daerah Provinsi Papua oktober mendatang.

Kejuaraan tinju amatir bupati Cup yang berlangsung dari tanggal 4 - 14 juli 2013 itu awalnya berlangsung aman-aman saja. Saking amannya tidak ada satupun media nasional apalagi internasional yang memberitakannya, termasuk kompasiana kita ini. Namun di malam Final 14 juli 2013 terjadi kerusuhan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dalam Kerusuhan itu info terakhir memberitakan korba tewas adalah 18 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire. Rinciannya korban tewas 11 perempuan dan 7 laki-laki. Sementara korban luka adalah 34 orang yang terdiri dari anak-anak, wanita dan pria dewasa.

Tragedi berdarah yang menjadi perhatian dunia ini diawali oleh himbauan Bupati Nabire Isaias Douw kepada penonton yang tidak punya tiket dan berada di luar gedung daerah tempat pelaksanaan Final Kejuaraan Tinju ini diadakan agar masuk ke dalam gedung padahal gedung waktu itu sudah penuh oleh penonton yang mempunyai tiket. Akibatnya gedung dengkan kapasitas 1000 orang itu dipadati oleh 1500 -an orang lebih. Bupati sangat senang dengan antusiasme warganya ini.

Final tinjupun dilaksanakan, Akhirnya yang keluar sebagai pemenang pada final kelas 58 kilogram ini adalah Alpius Rumkorem dari sasana persada yang menag angka mutlak melawan Yulius Pigome dari Sasana Mawa. Setelah selesai prosesi pemberian hadiah pun segera dilaksanakan. Tiba-tiba suporter Yulius Pigome, yang tidak terima dengan kekalahan, berusaha naik ke atas ring, tetapi dihadang oleh petugas keamanan dari Dalmas Polres Nabire bersama Satuan Polisi Pamong Praja yang mengamankan jalannya kejuaraan ini.

Protes kubu Yulius Pigome itu membuat pendukung Alpius Rumkorem marah, lalu terjadilah adu fisik suporter di sekitar gelanggang, mereka saling lempar kursi dan saling lempar botol minuman. Menurut saksi mata mengatakan perusuh itu adalah para pemuda yang mabuk. Kerusuhan ini membuat penonton panik dan berusaha keluar dari gedung, Bupati Nabire yang hadir mencoba menenangkan malah ikut jadi amukan suporter kubu yang kalah. Akibat pintu gedung yang terbuka cuma satu dan saking padatnya gedung membuat penonton yang berlarian keluar saling sikut dan tarik akibatnya banyak penonton yang jatuh dan tewas karena kehabisan nafas dan terinjak penonton lain serta tak sedikit yang luka-luka.

Nabire pun mendadak terkenal karena tragedi ini. Berbagai pendapat pun bermunculan, ada yang menyalahkan bupati karena mengajak penonton tanpa tiket masuk gedung, ada yang menyalahkan panitia penyelenggara yang tak sigap mengatasi kerusuhan¬† dan ada pula yang mengatakan bahwa kondisi mental masyarakat papua yang masih “hobi” mabuk-mabukan dan menyelesaikan masalah dengan adu fisik seperti seringnya perang antar suku terjadi di wilayah itu sebagai penyebabnya.

Namun penulis menyimpulkan apapun penyebabnya. Semua kita harus berkaca kepada musibah ini. Semua ini bisa saja terjadi dimana saja di seluruh indonesia. Setiap kejuaraan yang melibatkan orang banyak harus dipatuhi benar rambu-rambu yang disepakati, mulai dari kapasitas gedung, jumlah personel keamanan yang cukup,  dilarangnya suporter masuk-mabukan dan membawa senjata dan sebagainya harus diperhatikan.  Panitia harus tegas, walau presiden sekalipun yang menghimbau dan itu melanggar peraturan, harus ditolak demi kelancaran acara. Semoga kedepan kita makin dewasa. Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 13 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 16 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Yamaha YZF R25 : A Superbike You Can Ride …

Fajr Muchtar | 7 jam lalu

Harumnya Pandan Cake Menggugah Selera, …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Menelusuri Jejak Para Diaspora …

Muhammad Rasyid Rid... | 8 jam lalu

Kasiat Tanaman Keji Beling …

Meilia Eka Diah Pra... | 8 jam lalu

Rumah Terakhir Pahlawan Nasional Ini …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: